BANYUMAS.RILISJATENG.COM – Pemerintah Kabupaten Banyumas kembali menegaskan komitmennya dalam percepatan penurunan angka stunting melalui Gerakan Cegah Stunting Tingkat Kabupaten Banyumas yang digelar di Pendopo Si Panji pada Rabu (19/8/2026). Kegiatan ini menjadi salah satu langkah nyata pemerintah daerah dalam mendukung prioritas pembangunan nasional di bidang kesehatan anak dan keluarga.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas, dr. Dani Esti Novia, mengungkapkan bahwa kegiatan yang diikuti oleh 134 peserta ini merupakan bagian dari upaya membangun komitmen bersama lintas sektor dengan masyarakat dalam percepatan pencegahan dan penurunan stunting. Berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024, prevalensi stunting di Kabupaten Banyumas tercatat sebesar 19,6 persen, sementara Kementerian Kesehatan menargetkan angka tersebut berada di bawah 17,5 persen pada tahun 2026. Kondisi ini, menurut Dr. Dani, menjadi perhatian bersama yang membutuhkan penguatan kolaborasi lintas sektor, lintas program, dan partisipasi aktif masyarakat.
Melalui tema “Bersama Cegah Stunting, Wujudkan Generasi Banyumas Sehat, Cerdas, dan Berkualitas”, kegiatan ini juga mengampanyekan gerakan ABCDE pencegahan stunting, yaitu :
- Aktif minum Tablet Tambah Darah;
- Bumil teratur memeriksakan kehamilan minimal enam kali;
- Cukupi konsumsi protein hewani;
- Datang ke Posyandu setiap bulan;
- Eksklusif ASI selama enam bulan.
Rangkaian kegiatan turut diisi dengan lomba Makanan Pendamping ASI (MP-ASI), penandatanganan komitmen bersama, pemberian penghargaan kepada Orang Tua Hebat, deklarasi komitmen pencegahan stunting, serta talkshow mengenai pencegahan gangguan pertumbuhan dan pemberian makanan bayi dan anak yang tepat.
Kegiatan ini turut didukung oleh Dana Alokasi Khusus (DAK) Non-Fisik Bidang Kesehatan Tahun Anggaran 2026, serta berbagai organisasi profesi dan mitra pembangunan, di antaranya Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) Banyumas, Ikatan Istri Dokter Indonesia (IIDI), Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Cabang Banyumas, Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Cabang Banyumas, serta dukungan dari Kalbe dan Tanoto Foundation.
Dr. Dani berharap kegiatan ini tidak berhenti sebagai acara seremonial semata, melainkan menjadi titik awal penguatan komitmen seluruh pihak untuk melaksanakan intervensi spesifik maupun intervensi sensitif secara berkelanjutan.
“Pencegahan stunting merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan kolaborasi pemerintah, tenaga kesehatan, dunia pendidikan, organisasi masyarakat, dunia usaha, media, dan seluruh keluarga di Kabupaten Banyumas,” jelasnya.
Ia menekankan, peran keluarga menjadi yang paling utama dalam mendukung tumbuh kembang anak.
“Utamanya keluarga, karena keluarga sangat berperan penting untuk tumbuh kembang anak. Karena keluargalah yang tahu betul bagaimana kondisi anak,” pungkasnya.
Senada dengan hal tersebut, Wakil Bupati Banyumas, Dwi Asih Lintarti, dalam sambutannya menegaskan bahwa upaya pencegahan stunting sejatinya sudah harus dimulai jauh sebelum seseorang menjadi orang tua. Menurutnya, pendampingan ibu hamil yang maksimal, keaktifan Posyandu, serta edukasi berkelanjutan kepada remaja menjadi kunci penting dalam menekan angka stunting di Banyumas.
“Saya ingin kita semua tidak lelah mengedukasi masyarakat bahwa mencegah stunting sebenarnya bisa dimulai dari hal-hal sederhana,” ujarnya.
Ia menjelaskan, langkah-langkah sederhana tersebut antara lain remaja putri yang rutin mengonsumsi tablet tambah darah, ibu hamil yang disiplin memeriksakan kandungannya, kecukupan asupan protein hewani, kunjungan rutin ke Posyandu setiap bulan, hingga pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan bayi.
“Langkah-langkah sederhana inilah yang akan menentukan kualitas generasi kita di masa depan,” tambahnya.
Dengan sinergi seluruh pemangku kepentingan, Pemerintah Kabupaten Banyumas optimistis target penurunan prevalensi stunting dapat tercapai demi mewujudkan generasi Banyumas yang sehat, cerdas, dan berkualitas menuju Indonesia Emas 2045.







