BANYUMAS.RILISJATENG.COM — Kementerian Kesehatan Republik Indonesia bekerja sama dengan Noor Dubai Foundation dan Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) Jawa Tengah resmi membuka kegiatan Bakti Sosial Operasi Katarak Massal di Kabupaten Banyumas, Jumat (7/8/2026). Rangkaian acara diawali dengan penyambutan rombongan Wakil Menteri Kesehatan RI, Duta Besar Uni Emirat Arab untuk Indonesia, serta CEO dan delegasi Noor Dubai Foundation di Rumah Sakit Khusus Mata (RSKM) Purwokerto, sebelum dilanjutkan dengan Opening Ceremony di Pendopo Si Panji yang turut dihadiri jajaran Perdami, Wakil Bupati Banyumas, serta unsur Forkopimda dan pemangku kepentingan kesehatan di wilayah Barlingmascakeb.
Usai meninjau langsung proses skrining mata di RSKM Purwokerto, Wakil Menteri Kesehatan RI Dante Saksono Harbuwono sempat berbincang dengan awak media di lokasi.
“Hari ini di Kabupaten Banyumas, di Kota Purwokerto, kita mulai melakukan skrining pada hari ini, yang operasinya akan dilakukan besok oleh teman-teman dari Perdami,” ujarnya.
Program ini menyasar masyarakat di Kabupaten Banyumas, Purbalingga, Cilacap, dan Banjarnegara, dengan total 145 peserta yang telah menjalani proses pemeriksaan dan seleksi melalui skrining langsung, penjaringan aktif oleh Puskesmas, maupun pendaftaran mandiri. Dari jumlah tersebut, sebanyak 75 mata ditargetkan menjalani tindakan operasi sesuai indikasi medis dan kesiapan pasien. Kegiatan ini merupakan bagian dari program nasional operasi katarak gratis tahap II yang menargetkan 500 pasien di seluruh Jawa Tengah, dengan skrining dilaksanakan pada Jumat (7/8) dan operasi dijadwalkan berlangsung keesokan harinya pada Sabtu (8/8).
Direktur RS Mata Purwokerto, Ahmad Hermanto, dalam sambutannya menyampaikan bahwa bakti sosial operasi katarak ini bukan sekadar kegiatan pelayanan kesehatan, melainkan bagian dari upaya bersama mendukung program nasional penanggulangan gangguan penglihatan dan kebutaan. Ia mengutip data World Report on Vision dari WHO yang menyebutkan sekitar 2,2 miliar penduduk dunia mengalami gangguan penglihatan, dan sekitar 1 miliar di antaranya sebenarnya dapat dicegah atau ditangani melalui pelayanan kesehatan yang tepat.
Di Indonesia sendiri, hasil Rapid Assessment of Avoidable Blindness menunjukkan prevalensi kebutaan pada penduduk usia 50 tahun ke atas mencapai 3 persen, dengan lebih dari 80 persen kasus disebabkan oleh katarak. Kementerian Kesehatan bahkan memperkirakan pada tahun 2025 terdapat 600.000 hingga 650.000 masyarakat Indonesia yang mengalami kebutaan akibat katarak, sehingga percepatan skrining dan operasi katarak menjadi kebutuhan mendesak.
Ahmad juga memaparkan capaian inovasi RS Mata Purwokerto bertajuk “Rumah Sakit Tanpa Dinding Paket Komplit Jelas Oke”, yakni layanan yang mendekatkan rumah sakit kepada masyarakat mulai dari skrining hingga penjemputan pasien. Sepanjang 2024 hingga 2026, tercatat 9.006 orang telah diskrining, 1.043 orang terdiagnosis katarak, dan 348 orang telah menjalani operasi. Ia berharap RS Mata Purwokerto dapat terus tumbuh menjadi pusat layanan kesehatan mata unggulan (Center of Excellence) di wilayah Barlingmascakeb.
“Karena melihat adalah harapan, dan mengembalikan penglihatan berarti mengembalikan kualitas hidup,” ujar Ahmad.
Wakil Bupati Banyumas, Dwi Asih Lintarti, menegaskan bahwa mata merupakan jendela kehidupan yang memungkinkan seseorang bekerja, belajar, mengasuh keluarga, hingga beribadah. Ketika penglihatan terganggu akibat katarak, dampaknya bukan hanya pada kemampuan melihat, tetapi juga pada produktivitas, kemandirian, dan kualitas hidup secara keseluruhan.
“Mata adalah jendela kehidupan,” ujar Lintarti.
Ia menyebutkan bahwa berdasarkan data RAAB tahun 2014–2016 di 15 provinsi, prevalensi kebutaan pada penduduk di atas 50 tahun mencapai sekitar 3 persen, dengan sekitar 81,2 persen di antaranya disebabkan oleh katarak.
Lintarti juga menggarisbawahi bahwa sekitar 90 persen penyandang kebutaan berasal dari kelompok masyarakat kurang mampu, sehingga layanan operasi katarak gratis, aman, dan bermutu menjadi langkah penting memutus mata rantai antara kebutaan dan kemiskinan.
Kegiatan ini, menurutnya, sejalan dengan Peta Jalan Penanggulangan Gangguan Penglihatan Tahun 2017–2030 serta semangat Vision 2020: The Right to Sight.
“Pemerintah Kabupaten Banyumas berkomitmen untuk terus memperkuat layanan kesehatan mata yang berkelanjutan melalui sinergi pemerintah, organisasi profesi, rumah sakit, maupun mitra,” katanya, sekaligus mengajak masyarakat untuk rutin memeriksakan kesehatan mata sebagai langkah deteksi dini.
Wakil Ketua Umum Bidang Kerja Sama Pengurus Pusat Perdami, Trilaksana Nugroho, dalam sambutannya menyampaikan bahwa katarak bukan sekadar penyakit pada mata, sebab kehilangan penglihatan memengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan, mulai dari pendidikan, pekerjaan, mobilitas, kemampuan merawat keluarga, hingga partisipasi dalam kehidupan sosial.
“Mengembalikan penglihatan bukan hanya memperbaiki fungsi melihat, tetapi juga mengembalikan rasa percaya diri, kemandirian, harapan, serta kualitas hidup seseorang,” ujarnya.
Ia menjelaskan, meski Indonesia telah menunjukkan kemajuan signifikan dalam memperluas akses pelayanan kesehatan mata, gangguan penglihatan masih menjadi salah satu tantangan terbesar dalam kesehatan masyarakat.
CEO Noor Dubai Foundation, Manal Taryam, menyampaikan rasa terima kasih kepada Kementerian Kesehatan RI atas kepercayaan dan kerja sama yang terjalin, serta kepada Kedutaan Besar Uni Emirat Arab yang menjadi jembatan hubungan kedua negara. Ia juga menyampaikan apresiasi khusus kepada masyarakat Purwokerto atas sambutan yang hangat.
Manal menjelaskan bahwa Noor Dubai Foundation merupakan organisasi kemanusiaan asal Uni Emirat Arab yang berfokus pada pencegahan kebutaan dan pemulihan penglihatan di berbagai belahan dunia, bekerja sama dengan pemerintah, tenaga kesehatan, dan komunitas lokal untuk memastikan layanan kesehatan mata yang berkelanjutan menjangkau mereka yang paling membutuhkan.
“Hari ini bukan tentang pengobatan atau operasi. Ini tentang memulihkan kemandirian, menghadirkan kembali harapan, dan membuka peluang bagi setiap individu, keluarga, dan masyarakat. Setiap orang yang kembali dapat melihat, kembali pula kemampuannya untuk belajar, bekerja, merawat orang-orang terkasih, dan berpartisipasi penuh dalam kehidupan sosial,” ujar Manal.
Ia menutup sambutannya dengan menyampaikan apresiasi kepada seluruh dokter, perawat, tenaga kesehatan, dan relawan Indonesia yang terlibat, seraya menegaskan bahwa kesejahteraan tidak mengenal batas maupun sekat wilayah.
Duta Besar Uni Emirat Arab untuk Indonesia, Abdulla Salem Al Dhaheri, menyampaikan kegembiraannya dapat hadir di Purwokerto untuk meluncurkan program kemanusiaan yang menargetkan 500 operasi katarak bagi masyarakat Indonesia. Ia menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Kesehatan RI dan Noor Dubai Foundation atas kerja sama yang terjalin, yang menurutnya mencerminkan semangat solidaritas kemanusiaan antara kedua negara.
“Bagi saya, ini lebih dari sekadar program medis. Ini adalah program yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat,” ujar Abdulla.
Abdulla menjelaskan bahwa inisiatif ini juga mencerminkan visi kemanusiaan bersama dari kedua pemimpin negara, yakni Presiden UEA Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan dan Presiden RI Prabowo Subianto, yang hubungan eratnya terus mendorong kerja sama kedua negara ke tingkat yang lebih tinggi. Program sebanyak 500 operasi katarak ini akan berlangsung sejak 7 Agustus hingga 12 Desember 2026, tidak hanya di Jawa Tengah, tetapi juga menjangkau Yogyakarta, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Utara. Ia turut menyinggung keberhasilan misi medis serupa yang sebelumnya digelar Noor Dubai Foundation di Kalimantan pada April 2026 dengan capaian 500 operasi katarak.
Wakil Menteri Kesehatan RI, Dante Saksono Harbuwono, dalam sambutan sekaligus keterangannya kepada wartawan usai meninjau skrining mata di RSKM Purwokerto menyampaikan bahwa jumlah kasus katarak di Indonesia yang terdeteksi mencapai sekitar 600 ribu kasus, namun angka riil diperkirakan jauh lebih besar karena belum seluruh penderita terdiagnosis.
“Jumlah penyakit katarak di Indonesia itu kurang lebih ada 600.000 kasus. Angka itu masih yang terdeteksi, sebenarnya jauh lebih banyak daripada itu,” kata pungkasnya.
Ia menjelaskan bahwa katarak merupakan penyakit degeneratif yang umumnya muncul akibat proses penuaan, namun dapat dipicu atau diperburuk oleh kondisi lain seperti diabetes maupun gangguan pada mata.
“Katarak itu adalah penyakit degeneratif atau penyakit yang bisa timbul karena sebab alamiah, karena faktor penuaan,” ujarnya.
Dante mendorong masyarakat untuk memanfaatkan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang telah disediakan pemerintah, termasuk pemeriksaan visus atau ketajaman penglihatan, karena semakin dini gangguan katarak terdeteksi, semakin tinggi pula angka keberhasilan operasinya.
Ia juga menyampaikan bahwa pemerintah memperkuat penanganan katarak melalui skema pembiayaan operasi bagi pasien yang memenuhi ketentuan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) melalui BPJS Kesehatan.
“Langkah konkret yang kita lakukan adalah melakukan pembiayaan terhadap penyakit katarak yang dioperasi. Ini pasti akan terjadi jumlahnya makin lama makin besar, seiring harapan hidup yang makin lama makin lanjut,” kata ungkapnya, mengingat rasio operasi katarak di Indonesia saat ini berkisar 3.000 operasi per satu juta penduduk per tahun.
Ia menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Banyumas yang telah memfasilitasi kegiatan ini, kepada Perdami atas darma baktinya, serta kepada Kementerian Luar Negeri, Pemerintah Uni Emirat Arab, dan Noor Dubai Foundation atas kolaborasi yang terjalin.
Sementara itu, kegiatan ini juga menjadi kesempatan belajar bagi sekitar 10–12 dokter residen untuk mendapatkan pengalaman praktik langsung bersama dokter senior. Duta Besar UEA Abdulla Salem Al Dhaheri menegaskan bahwa program ini merupakan kerja sama kedua setelah kegiatan serupa di Kalimantan, dan pihaknya berencana melanjutkan program ini ke wilayah lain di Indonesia sebagai wujud komitmen berkelanjutan UEA bagi masyarakat Indonesia.







