BANYUMAS.RIISJATENG.COM – Pemerintah Kabupaten Banyumas bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Purwokerto resmi memulai pelaksanaan Program Desa Ekosistem Keuangan Inklusif (Desa EKI) Tahun 2026 melalui kegiatan Kick Off yang digelar di Desa Banjarpanepen, Kecamatan Sumpiuh, Banyumas. Kick Off ditandai dengan pemukulan gong oleh Wakil Bupati Banyumas, Dwi Asih Lintarti pada Kamis (30/7/26).
Program ini menjadi bagian dari komitmen Pemerintah Kabupaten Banyumas dalam memperluas akses masyarakat terhadap layanan keuangan formal sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif hingga tingkat desa.
Lintarti menuturkan, program Desa EKI sejalan dengan amanat undang-undang nomor 6 tahun 2014 tentang desa yang menempatkan desa sebagai subjek pembangunan.
‘’Kita menyadari bahwa masih terdapat kesenjangan tingkat literasi dan inklusi keuangan antara masyarakat perkotaan dan perdesaan. Oleh karena itu, melalui Desa EKI kita ingin memastikan masyarakat desa memperoleh kesempatan yang sama dalam memanfaatkan berbagai produk dan layanan keuangan formal, mulai dari tabungan, pembiayaan usaha, asuransi, hingga layanan transaksi digital,’’ungkapnya.
Lintarti menjelaskan, dipilihnya Desa Banjarpanepen sebagai Desa EKI tahun 2026 karena memiliki potensi besar di sektor pertanian, peternakan, dan pariwisata.
‘’Namun demikian, masih terdapat tantangan berupa terbatasnya akses terhadap lembaga jasa keuangan.Kondisi ini menjadi peluang bagi kita untuk menghadirkan layanan keuangan yang lebih dekat dengan masyarakat sehingga mampu mendorong produktivitas dan kesejahteraan desa,’’tuturnya.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Kantor OJK Purwokerto, Dinavia Tri Riandari menuturkan program Desa EKI ini bertujuan untuk membangun ekosistem keuangan yang mampu mendukung masyarakat desa dalam memperoleh akses terhadap layanan keuangan formal mudah, aman, dan terjangkau.
‘’Program EKI juga diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk memanfaatkan layanan keuangan secara optimal dalam mengembangkan potensi yang dimiliki desa,’’ucapnya.
Dinavia menjelaskan, melalui program ini, masyarakat dan pemerintah desa yang akan mendapatkan pendampingan serta bimbingan teknis dari berbagai instansi dinas untuk berbagai aspek sehingga desa mampu meningkatkan kapasitas pengelolaan keuangan dan pengembangan potensi daerah secara mandiri.
‘’Desasa Banjarpanepen memiliki jumlah penduduk sebanyak 5.366 jiwa serta berbagai potensi wisata seperti Bukit Panaritan Curug Kelapa dan Kali Cawang. Selain itu juga memiliki potensi ekonomi unggulan, antara lain budi daya durian bawor, gula kelapa kristal, serta sektor palawija dan hortikultura,’’lanjutnya.
Potensi tersebutlah yang perlu didukung dengan ekosistem keuangan yang inklusif agar masyarakat dapat memperoleh akses pendanaan produktif, meningkatkan kapasitas usaha serta mengembangkan potensi ekonomi lokal secara berkelanjutan.
Adapun program ini akan dilaksanakan melalui tahapan pra inkubasi, inkubasi, dan pasca inkubasi. Kegiatan meliputi pemetaan kondisi desa, survei terhadap masyarakat, edukasi keuangan, pendampingan usaha, penguatan akses pembiayaan, tabungan, asuransi, digitalisasi transaksi, hingga monitoring dan evaluasi agar manfaat program dapat berkelanjutan.
‘’Dengan agenda kegiatan sejak dimulai 30 Juli sampai dengan 8 September sebanyak 7 kali. Pada akhirnya, upaya tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa Banjarpanepen secara berkelanjutan,’’pungkasnya.
